Jumat, 15 Januari 2016

Sejarah Bendera Buddhis Internasional
dan Arti Warna Bendera

Untuk menentukan simbol suatu bangsa atau negara maupun kesatuan, biasanya ditandai dengan panji atau bendera. Untuk menciptakan simbol- simbol tersebut tidak sembarangan, karena merupakan suatu `pengenalan’ yang otentik. Seperti halnya bendera negara Republik Indonesia yang hanya dua warna, merah dan putih, diakui dunia sebagai hasil ciptaan almarhumah Fatmawati, istri Presiden Pertama RI, Ir Soekarno.
Membicarakan hal ini, dalam memperkenalkan bendera Buddhis secara internasional pun memerlukan rancangan yang serius. Seperti yang dituturkan Col. HS. Olcott dalam bukunya yang berjudul “Old Dairy Leaves”, tentang sejarah terciptanya Bendera Buddhis internasional.

Fundamental
PADA suatu ketika di bulan Februari 1885, kawan-kawanku dari Colombo (Sri -Lanka) yang tergabung dalam Panitia Pertahanan Buddhis Sri Lanka (Buddhis Defence Committee), mendapat sebuah gagasan untuk membuat bendera yang dapat menjadi symbol dan lambang yang kelak dapat diterima oleh semua sekte umat Buddha di dunia.
Hal tersebut merupakan sebuah ide yang teramat bagus. Dan ketika hal itu dicetuskan, dengan serta-merta saya sudah melihat adanya potensi dalam bendera semacam itu, yang kelak dapat menjadi lambang persatuan di kemudian hari.
“Hal tersebut akan dapat membantu usaha saya untuk mempersatukan umat Buddha di dunia, yang saya rintis sejak saya terjun dalam Buddha Dharma. Dengan adanya titik-titik ketidaksamaan yang begitu banyak antara ajaran agama Buddha aliran Utara dengan ajaran aliran Selatan, pekerjaan untuk mempersatukan pendapat mereka sungguh saya rasakan kesulitannya”, ujar Olcott.
“Namun, melihat dasar fundamental, yang sama antara aliran Utara dan Selatan, maka saya masih mempunyai harapan untuk dapat mempersatukan pendapat mereka dalam merencanakan sebuah bendera persatuan yang dapat diterima oleh semua pihak”, tulis Olcott selanjutnya.

Enam Warna
Dalam usaha merencanakan bendera Buddhis tersebut, saudara­saudara saya dari Sri Lanka telah mendapat sebuah pikiran yang sangat orisinil dan unik sekali. Mereka menyarankan, agar bendera Buddhis Internasional tersebut dibentuk dalam warna-warna aura atau cahaya yang ke luar dari badan Sang Buddha ketika Beliau mencapai kesucian di bawah Pohon Bodhi di Bodhgaya.
Mereka berpendapat, bendera yang dibuat dari warna-warna aura Sang Buddha, pasti dapat meniadakan perdebatan-perdebatan antar sekte. Semua sekte tanpa terkecuali, telah lama menerima tradisi warna aura Sang Buddha ini. Sama seperti yang telah mereka terima mengenai gambar dan bentuk patung-patung Sang Buddha.
Dalam tulisannya, Olcott selanjutnya mengatakan : “Kepada panitia, kami menyarankan agar bendera Buddhis tersebut tidak mempunyai atau mengandung arti politik dalam bentuk apapun. Dan harus mempunyai arti serta nilai keagamaan yang mendalam!”.
Panitia kemudian membuat sketsa­sketsa percobaan dari calon bendera/ panji Buddha tersebut. Sebuah sketsa kemudian disarankan oleh panitia berbentuk sebuah bendera yang panjang berkelok-kelok seperti ular.
Menurut pendapat saya, bendera panjang tersebut tidak praktis, dan akan sulit untuk dibawa dalam prosesi. Dan juga bendera seperti itu tidak indah bila dipasang di dinding.
“Saya mengusulkan bentuk bendera yang biasa saja. Setelah contohnya selesai dibuat, bendera tersebut disetujui oleh seluruh anggota panitia dengan suara bulat. Dalam waktu singkat, bendera ini telah menawan hati umat Buddha.
Pada Hari Raya Waisak tahun 1885, bendera tersebut pertama kali mulai dikibarkan di hampir semua vihara dan rumah penduduk di Sri Lanka”. demikian tulis Olcott.
Warna-warni yang terdapat pada bendera Buddhis adalah warna biru, kuning, merah, putih, dan jingga atau merah muda. Warna-warni ini disusun secara vertikal lalu disebelahnya ada kelima warna ini yang disusun secara horisontal. Setiap warna mempunyai arti yang berbeda. Warna-warni horisontal melambangkan perdamaian abadi dari ras-ras yang ada di dunia dan keharmonisan dalam kehidupan bersama. Warna vertikal melambangkan perdamaian di dalam dunia ini.
Secara singkat, bendera Buddhis memberikan makna bahwa tidak ada diskriminasi ras ataupun kebangsaan, kedaerahan ataupun warna kulit, bahwa semua makhluk mempunyai potensi mencapai kesucian menjadi Buddha dan mempunyai karakteristik kebuddhaan.
Secara lengkap, keenam warna tersebut adalah :
INDONESIAINGGRISPALISANSKERTA
1.BiruSapphire BlueNilaNila
2.Kuning EmasGolden YellowPitaPita
3.Merah TuaCrimsonLohitaRohita
4.PutihWhiteAvadataAvadata
5.JinggaScarletMangastaMenjistha
6.Gabungan ke lima warna di atasA hue composes of the above five colloursPrabhasvaraPrabhasvara
Panji Buddhis Enam Warna atau Sadvarna Dvhaja tersebut bermakna :
1. Biru dari warna rambut Sang Buddha melambangkan bakti atau pengabdian
2. Kuning Emas dari warna kulit Sang Buddha melambangkan kebijaksanaan
3. Merah tua dari warna darah Sang Buddha melambang cinta kasih
4. Putih dari warna tulang dan gigi Sang Buddha melambang kesucian
5. Jingga adalah warna yang diambil dari warna telapak tangan, kaki dan bibir Sang Buddha yang melambangkan semangat
6. Gabungan kelima warna melambangkan gabungan kelima faktor yang telah disebutkan di atas.
Adapun makna sebenarnya istilah “Prabhasvara” adalah bersinar sangat terang atau cemerlang
Keterangan :
Colonel Henry Steel Olcott adalah salah satu pendiri Perhimpunan Theosofi dan Presiden Internasional yang pertama dari perhimpunan tersebut. Bersama-sama dengan Panitia Pertahanan Buddhis Sri Lanka yang diketuai oleh Sumangala Sthavira , ia berhasil menciptakan panji tersebut.
Dalam usia 75 tahun, beliau meninggal dunia di India pada tanggal 17 Februari 1907 setelah 32 tahun mengabdi sebagai Presiden Perhimpunan Theosofi.
Colonel Henry Steel Olcott
1832-1907

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/sejarah-dan-arti-bendera-buddhis-internasional/

LAMBANG-LAMBANG DALAM AGAMA BUDDHA

1.    Buddha Rupang, Bunga, Lilin, Air, Dupa
a.   Buddha Rupang.
      Simbol dari ketenangan batin seseorang. Buddha rupang bukan berhala yang harus disembah oleh umat Buddha, namun Buddha rupang adalah simbol dari ketenangan batin.
      Bunga.
      Simbol dari ketidak-kekalan. Bunga segar yang diletakkan di altar setelah berganti waktu dan hari akan menjadi layu. Begitu pula dengan badan jasmani kita, suatu waktu kelak pasti akan menjadi tua, sakit, lapuk akhirnya meninggal.

      Lilin.
      Simbol dari cahaya atau penerangan batin yang akan melenyapkan kegelapan batin dan mengusir ketidaktahuan (avijja)
      Air
      Simbol dari kerendahan hati. Dikatakan demikian karena air selalu mencari tempat yang lebih rendah dimanapun mengalir. Sifat air adalah :
¨       Dapat membersihkan noda
¨       Menjadi sumber kehidupan makhluk
¨       Dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan
¨       Selalu mencari tempat yang lebih rendah
¨       Meskipun kelihatannya lemah, tetapi dalam keadaan tertentu dapat bangkit menjadi tempat yang dahsyat (misal banjir, sunami, dll)
b.  Dupa.
Simbol dari keharuman nama baik seseorang. Bau wangi dupa yang dibawa angin akan tercium di tempat yang jauh, namum tidak dapat tercium di tempat yang berlawanan dengan arah angin. Begitu juga dengan perbuatan manusia yang baik akan diketahui oleh banyak orang, tetapi perbuatan tidak baik dimanapun berada juga akan diketahui oleh orang lain.
2.    Bendera Buddhis, terdiri dari lima warna, al :
¨       Biru artinya bhakti
¨       Kuning artinya bijaksana
¨       Merah artinya cinta kasih
¨       Putih artinya suci
¨       Jingga/Orange artinya semangat
Bendera Buddhis berasal dari aura Buddha yang dipancarkan dari tubuh Buddha, baik yang melingkar dibelakang kepala maupun yang menyelubungi tubuhnya. Aura tubuh Buddha dalam bahasa pali disebut Buddharasmi atau Byamappabha. Aura Buddha terdiri dari 6 macam, yaitu: Biru (Nila), Kuning (Pita), Merah (Lohita), Putih (Odata), Jingga/orange(Manjettha), campuran (pabhasura). Aura tubuh Buddha muncul pertama kali setelah mencapai penerangan sempurna di hutan Uruvela pada tahun 588 sebelum masehi, ketika itu beliau berusia 35 tahun. Belakangan warna aura tubuh Buddha tersebut dijadikan sebagai Bendera Buddhis oleh J.R. De Silva dan Kolonel H.S.Olcott untuk menandakan kembali kebangkitan kembali agama Buddha di Ceylon.
3.  Stupa
Pada mulanya merupakan gundukan peringatan berbentuk setengan bola. Belakangan, gundukan ini menjadi monumen yang dikeramatkan. Menurut legenda bentuk tersebut berasal dari petunjuk Buddha Sakyamuni yang memperlihatkan kepada siswanya bagaimana cara membangun stupa dengan benar. Dalam legenda ini, Buddha mengambil tiga lembar jubahnya, melipatnya hingga membentuk bujur sangkar, lalu diletakkan diatas  tanah saling bertumpuk satu sama lain. Di atasnya diletakkan mangkuk (patha/bowl) secara terbalik dan diatasnya lagi diletakkan tongkat yang biasanya dibawa berkelana. Oleh karena itu stupa biasanya berbentuk tiga tingkat, al : tingkat dasar berbentuk trapezoid, bagian tengah berbentuk setengah bola, bagian atas berbentuk kerucut.
4.  Dhammacakka
Secara harfiah artinya roda dhamma, bentuknya bulat dan didalamnya terdapat jari-jari berjumlah
Delapan buah, terdiri dari :
a.    Pandangan benar : pandangan terhadap empat kesunyataan mulia
b.    Pikiran benar : pikiran terhadap segala sesuatu yang bersifat positif
c.    Ucapan benar : perkataan yang bermakna dan tidak menyakiti orang lain
      Syarat ucapan disebut benar adalah :
¨          Ucapan itu benar
¨          Ucapan itu bermanfaat
¨          Ucapan itu beralasan
¨          Ucapan itu tepat pada waktunya.
d.    Perbuatan benar : suatu tindakan yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain
e.    Mata Pencaharian benar : melalukan kegiatan yang positif yang membawa kebahagiaan
f.    Usaha benar : berusaha mengembangkan segala sesuatu yang positif demi kemajuan batin
      Ada lima maca usaha/perdagangan yang sebaiknya dihindari oleh umat Byddha, yaitu :
¨       Berdagang manusia untuk dijadikan budak
¨       Berdagang senjata tajam
¨       Berdagang binatang buas (harimau, kucing, anjing, ular, dll)
¨       Berdagang racun
¨       Berdagang obat-obatan terlarang
g.    Perhatian benar : mengendalikan gerak gerik prilaku diri sendiri secara wajar
h.    Konsentrasi benar : memusatkan pikiran pada satu obyek
5.  Relik
Adalah peninggalan khusus dari jenazah seseorang yang dipandang suci. Peninggalan khusus ini biasanya berupa potongan kuku, rambut, abu jenazah, gigi, tulang, atau benda tertentu yang terdapat dalam tubuh setelah dikremasi. Pemujaan terhadap relik mulai sejak kematian Buddha Gautama setelah abu jenazahnya dibagi menjadi sepuluh bagian dan disimpan dalam stupa yang didirikan di sepuluh negara. Sebagai contoh relik gigi Sang Buddha saat ini disimpan di vihara Dalada Valigwa, dekat kandy Srilanka, sedangkan relik Sariputta dan Mogallana disimpan di Sanci, India.
6.  Swastika
Adalah lambang yang berbentu salib sumbu dengan ujung sumbu membentuk patahan sehingga seolah-olah mirip dengan dua huruf S dan Z yang saling bertumpang tindih tegak lurus. Bentuk ini melambangkan lingkaran kehidupan yang terus menerus. Swastika melambangkan kesejahteraan dan hidup panjang.
Gambar Swastika :
7.  Tasbih
Dalam lingkungan agama Buddha digunankan sebagai alat bantu dalam bermeditasi untuk memusatkan pikiran. tAsbih ini biasanya memiliki biji yang berjumlah 108 buah. Secara umum biji-biji ini dipakai untuk membilang banyaknya mantra atau doa dalam Mahayana.
8.    Pohon Bodhi
adalah lambang kebijaksanaan atau kesadaran agung dari pertapa Gautama. Karena dibawah pohon inilah Pertapa Gautama mencapai kesempurnaan.
Gambar daun Bodhi :
9.    Teratai adalah lambang kesucian. Teratai memiliki warna bermacam-macam, al: Warna Putih (Pundarika), warna biru (Upala), Warma merah (Lohita).
10.  Genta adalah lambang akan dimulainya upacara atau kegiatan yang resmi.














Sumber : http://pak-diyon.blogspot.co.id/2011/10/lambang-lambang-dalam-agama-buddha.html

Kamis, 14 Januari 2016

Kisah Cakkhupala Thera

 
Suatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara Jetavana untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi jalan kaki, sang thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga sehingga mati. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali serombongan bhikkhu yang mendengar kedatangan sang thera bermaksud mengujunginya. Di tengah jalan, di dekat tempat sang thera menginap mereka melihat banyak serangga yang mati. 


"Iiih..., mengapa banyak serangga yang mati di sini?" seru seorang bhikkhu. "Aah, jangan jangan...", celetuk yang lain. "Jangan-jangan apa?" sergah beberapa bhikkhu. "Jangan-jangan ini perbuatan sang thera!" jawabnya. "Kok bisa begitu?" tanya yang lain lagi. "Begini, sebelum sang thera berdiam disini, tak ada kejadian seperti ini. Mungkin sang thera terganggu oleh serangga-serangga itu. Karena jengkelnya ia membunuhinya."

"Itu berarti ia melanggar vinaya, maka perlu kita laporkan kepada Sang Buddha!" seru beberapa bhikkhu. "Benar, mari kita laporkan kepada Sang Buddha, bahwa Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya", timpal sebagian besar dari bhikkhu tersebut.

Alih-alih dari mengunjungi sang thera, para bhikkhu itu berubah haluan, berbondong-bondong menghadap Sang Buddha untuk melaporkan temuan mereka, bahwa "Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya!"

Mendengar laporan para bhikkhu, Sang Buddha bertanya, "Para bhante, apakah kalian telah melihat sendiri pembunuhan itu?"

"Tidak bhante", jawab mereka serempak.
Sang Buddha kemudian menjawab, "Kalian tidak melihatnya, demikian pula Cakkhupala Thera juga tidak melihat serangga-serangga itu, karena matanya buta. Selain itu Cakkhupala Thera telah mencapai kesucian arahat. Ia telah tidak mempunyai kehendak untuk membunuh."

"Bagaimana seorang yang telah mencapai arahat tetapi matanya buta?" tanya beberapa bhikkhu.

Maka Sang Buddha menceritakan kisah di bawah ini:

Pada kehidupan lampau, Cakkhupala pernah terlahir sebagai seorang tabib yang handal. Suatu ketika datang seorang wanita miskin. "Tuan, tolong sembuhkanlah penyakit mata saya ini. Karena miskin, saya tak bisa membayar pertolongan tuan dengan uang. Tetapi, apabila sembuh, saya berjanji dengan anak-anak saya akan menjadi pembantu tuan", pinta wanita itu. Permintaan itu disanggupi oleh sang tabib.

Perlahan-lahan penyakit mata yang parah itu mulai sembuh. Sebaliknya, wanita itu menjadi ketakutan, apabila penyakit matanya sembuh, ia dan anak-anaknya akan terikat menjadi pembantu tabib itu. Dengan marah-marah ia berbohong kepada sang tabib, bahwa sakit matanya bukannya sembuh, malahan bertambah parah.

Setelah diperiksa dengan cermat, sang tabib tahu bahwa wanita miskin itu telah berbohong kepadanya. Tabib itu menjadi tersinggung dan marah, tetapi tidak diperlihatkan kepada wanita itu. "Oh, kalau begitu akan kuganti obatmu", demikian jawabnya. "Nantikan pembalasanku!" serunya dalam hati. Benar, akhirnya wanita itu menjadi buta total karena pembalasan sang tabib.

Sebagai akibat dari perbuatan jahatnya, tabib itu telah kehilangan penglihatannya pada banyak kehidupan selanjutnya.

Mengakhiri ceritanya, Sang Buddha kemudian membabarkan syair di bawah ini:

"Manopubbangama dhamma
manosettha manomaya
manasa ce padutthena
bhasati va karoti va
tato nam dukkhamanveti
cakkamva vahato padam."

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat,
maka penderitaan akan mengikutinya,
bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, di antara para bhikkhu yang hadir ada yang terbuka mata batinnya dan mencapai tingkat kesucian arahat dengan mempunyai kemampuan batin analitis "Pandangan Terang" (pati-sambhida).